Posted by: georgeroyke on: Februari 4, 2009
Ada salah satu buku yang sempat menjadi best seller yaitu TheTrue Power of Water yang ditulis oleh Masaru Emoto, dalam buku ini diperlihatkan adanya hubungan antara manusia dengan air yang ada disekitar kita. Penelitian Emoto melalui kecepatan foto yang tinggi telah menangkap gambaran struktur air pada saat membeku, Masaru Emoto membuktikan bahwa pikiran dan ucapan negatif dari manusia yang ditujukan kepada air akan mempengaruhi formasi kristal air. Pikiran dan ucapan yang kasar dan buruk mengakibatkan pembentukan kristal air yang tidak beraturan, sebaliknya pikiran dan ucapan manusia yang dilandasi dengan cinta dan kasih sayang akan membentuk formasi kristal yang indah. Dr. Joan Davis sebagai seorang profesor yang telah pensiun dari universitas tehnik Zurich dan mempelajari air selama lebih dari tiga puluh tahun memberi komentar terhadap penelitian Emoto ; penelitian tentang kristal air mengingatkan kita akan dua point penting yaitu pertama, penelitian ini membuat kita harus bersikap hati-hati akan respon yang diberikan air bahkan terhadap energi yang kecil sekalipun. Saya ingin agar para ilmuwan dan pihak yang berwenang tahu bahwa saat ini hampir tidak ada perlindungan yang kita berikan ke air. Saya rasa tehnik penelitian Emoto ini dapat digunakan di bidang kesehatan dan perawatan medis. Kedua , penelitian ini mengingatkan kita untuk lebih menghargai air. Hal yang paling pentingadalah kita harus memperbaiki hati kita lebih dulu agar bisa memperlakukan air dengan penuh penghargaan. (lih. The True Power of Water, hal. 153-154. )
Air ibarat coin yang memiliki dua sisi. Sisi positif dimana air berfungsi untuk mendukung keperluan hidup manusia. Tanpa air manusia akan binasa, dalam tubuh manusia saja air sangat diperlukan. dari aspek medis manusia dianjurkan untuk minum air putih sehari lima s.d delapan liter. Air sangat dibutuhkan untuk mencuci, memasak, mandi , dll. Air juga diperlukan untuk mengairi sawah dan sebagai pembangkit listrik (PLTA), serta berbagai keperluan untuk lingkungan hidup. Sedangkan sisi negatif dari air bila tidak diatur dengan baik dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia seperti bahaya banjir dan tsunami serta menyebabkan tanah longsor, dll.
Sudah saatnya kita sebagai insan manusia dapat belajar dari air dan menghargai air sebagai karunia dari Ilahi. Air harus diatur dengan bijak dan penuh cinta kasih sehingga membawa berkah dan manfaat bagi kelangsungan hidup manusia dan alam sekitarnya. Bukankah kita masih bersikap masa bodoh terhadap kebersihan air sungai sehingga tercemar oleh limbah manusia dan pabrik serta sampah yang kita buang . Kita juga sering berperilaku hidup boros dan tidak bijak dalam penggunaan air. Kita bersikap angkuh dan berpendapat bahwa air tidak perlu dipedulikan dan dihargai. Kita mengabaikan existensi air yang sesungguhnya sangat vital dan bernilai/bermakna bagi umat manusia.
Air dapat menjadi sesuatu hal yang positif bagi umat manusia dan lingkungan/alam, tetapi juga dapat berdampak negatif bagi manusia bila tidak dikelola dengan arif dan bijak serta penuh cinta kasih. Melihat air sungai yang jernih dan bersih mengalir dengan indah , hati siapa yang tidak bergetar dan kagum ? Mendengar gemericik air dipancuran dan dipematang sawah yang seakan memiliki melody , hati siapa yang tidak bergetar dan kagum ? Pandanglah lautan yang luas dan biru , bukankah dapat menjadi terapi bagi pikiran manusia yang suntuk dan sempit ?.
Penelitian Masaru Emoto dan para ahli seperti Joan Davis tentang air memperlihatkan bahwa air merupakan salah satu keajaiban ciptaan Ilahi yang diberikan kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan bagi kebaikan bagi dirinya, sesamanya dan alam sekitarnya. Sangat ironis bila manusia justru mengabaikan dan memperlakukan air dengan sembarangan dan masa bodoh . Maukah kita belajar menghargai dan bijak dalam mengelola dan memanfaatkan air ?.
Maret 27, 2009 pada 11:02 am
Kecil menjadi teman, besar menjadi lawan. Itu salah satu pribahasa untuk air.
Ya memang kita sebagai manusia tidak bijak dalam memperlakukan air,yang terkenal sebagai “Sumber Kehidupan”.
Anda mungkin masih bisa bertahan hidup walaupun anda tidak makan selama 1 minggu. Tapi anda tidak akan hidup jika dalam waktu kurang dari 3 hari tidak bertemu dengan sang “Sumber Kehidupan” tersebut.
Kita sebagai manusia cenderung tidak bisa menghargai sesuatu yang banyak/melimpah bahkan dengan mudah kita dapatkan. Kita terlena. Kita lupa bahwa tak ada yang abadi di dunia ini.
Mari kita mulai belajar dari ruang lingkup yang paling dekat dan sempit yaitu diri kita sendiri dan keluarga. Apakah kita sudah menghargai dan bijak mengelola dan memanfaatkan sang “Sumber Kehidupan” ?